Sunday, May 27, 2012

Manado, Torang Samua Basudara! Part I



Siang itu langit terlihat sangat cerah. Setelah menghabiskan waktu di udara hampir selama empat jam, akhirnya saya mendarat di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado. Kota Manado terlihat tentram karena begitu keluar dari bandara kita disuguhkan oleh barisan pohon kelapa di sepanjang jalan. Kontur kota Manado termasuk tidak datar, terlihat selama perjalanan ke pusat Kota di isi oleh tanjakan dan turunan yang lumayan curam, hal ini dikarenakan Manado memiliki daerah perbukitan serta pantai.

Sekitar 45 menit perjalanan menuju kota, saya akhirnya tiba di hotel. Kebetulan hotel yang saya tinggali berhadapan langsung dengan garis pantai. Dari kamar yang saya tinggali saya bisa melihat langsung sedikit pemandangan dari kota Manado yang memiliki bukit dan pantai. Saya beruntung tinggal di hotel ini karena dekat sekali dengan lokasi untuk melihat matahari terbenam, yaitu kawasan Boulevard.

Pemandangan kota Manado dari kamar hotel

Menjelang senja, saya akhirnya berangkat menuju spot melihat matahari terbenam. Dari hotel saya tinggal hanya butuh waktu 5-7 menit berjalan kaki untuk sampai disana, hanya saja cuaca terasa sangat panas. Tempat ini disebut Oikano. Sebenarnya di Oikano ini hanya terdapat beberapa restoran kecil yang sengaja memberikan tempat bagi para pengunjung untuk menikmat matahari terbenam. Selain itu, terdapat Monumen Ikan Raja Laut atau yang biasa disebut Coelacanth. Menurut sejarahnya, ikan Coelacanth ini merupakan ikan yang dianggap telah punah 65 juta tahun yang lalu namun pada tahun 1938, seekor Coelacanth muncul dan tertangkap oleh jaring Hiu di Afrika. Sampai akhirnya pada tahun 1998, seekor Coelacanth ditemukan oleh seorang nelayan di Perairan Manado Tua yang diberi nama Ikan Raja Laut. Pada saat itu hanya nelayan setempat yang mengetahui adanya ikan tersebut. Dan pada Mei 2007, seorang nelayang menemukan Coelacanth dan dibawa tepat ke Oikano dan akhirnya dibuatlah monumen Ikan Raja Laut.

Oikano adalah tempat yang tepat untuk menyaksikan matahari terbenam, selain itu kita juga bisa berinteraksi dengan warga lokal yang sedang memancing atau sedang menunggu matahari terbenam. Kawasan ini juga bisa dibilang tidak terlalu ramai, sehingga anda bisa menikmati matahari terbenam dengan nyaman.


(Gambar kiri-kanan: Lokasi Oikano | Berdirilah di atas bintang dan ucapkan permintaan)


Matahari terbenam dan siluet Monumen Raja Ikan Laut

Sunday, May 20, 2012

Another Day



Alam selalu punya cara unik untuk menyapa kesadaranmu.

Kabarnya kau selalu benci apabila sinar matahari menelusup dari jendela kamarmu di pagi hari?
Bersyukurlah, masih ada hangat matahari yang mampu memanjakan kulitmu.

Kabarnya kau selalu benci apabila angin tiba-tiba berhembus dan memporakporandakan tatanan rambutmu?
Bersyukurlah, masih ada angin segar yang bisa kau rasa dengan indramu.

Kabarnya kau selalu benci apabila hujan turun dengan deras?
Bersyukurlah, masih ada waktu bagimu untuk istirahat dari seluruh aktifitasmu sambil menunggu hujan reda.

Kabarnya kau selalu benci apabila langit gelap tanpa bintang?
Bersyukurlah, kau masih dibawah langit yang sama setiap harinya.

Semoga lengkungan senyum senantiasa mengisi harimu.
Semoga rasa semangat terus terpompa di sekujur tubuhmu.
Semoga keberuntungan selalu mengikuti tiap-tiap jejak langkahmu.
Semoga tantangan yang menghadang tak menggoyahkan semangatmu.
Semoga, alam tak pernah lupa untuk mendukungmu.

Teruntuk kamu yang siap menjalani hari, selamat pagi!