Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

Sunday, September 04, 2011

Hold Your Breath: White Crater.

Lebaran kali ini saya dan keluarga absen dari mudik. Sekitar 1 bulan sebelumnya saya dan keluarga kebetulan sudah mampir ke Surabaya, sehingga setidaknya kami sudah saling bermaaf-maafan saat bulan puasa menjelang.

Libur lebaran kali ini saya dan keluarga menentukan untuk berwisata ke Pantai Ujung Genteng, tapi ternyata setelah menghubungi beberapa penginapan di sekitar sana ternyata hampir seluruh penginapan sudah dipesan sampai tanggal 5 September. Akhirnya keinginan saya untuk pergi ke pantai (lagi) pupus sudah. Orang tua saya tidak ingin yang lokasinya terlalu jauh, karena tahun ini kakak saya sudah punya momongan dan ingin mengajak anak bayinya jalan-jalan. Dengan pertimbangan seperti itu akhirnya kami menentukan untuk pergi ke Kawah Putih, Ciwidey, Bandung mengingat hanya saya dan kakak saya yang sudah pernah kesana, sedangkan anggota keluarga yang lain belum pernah.

Pada tanggal 1 September, kami berangkat pukul 08.00 dari rumah. Alhamdulillah cuaca hari itu cerah dan yang paling penting adalah kami tidak menemukan kemacetan selama perjalanan. Tol tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi, namun setiap rest area yang saya lewati sangat ramai dan penuh. Kami tidak terlalu banyak melakukan pemberhentian selain untuk mengisi bensin dan buang air.

Pukul 12.00 kami sampai di Bandung dan memutuskan untuk mencari penginapan di sekitar Buah Batu. Kami tidak ingin mencari hotel di pusat kota seperti daerah Dago, karena pasti akan ramai sekali lalu lintasnya dan hotel pun belum tentu banyak yang tersedia. Alhamdulillah, kami tidak perlu bersusah payah mendapatkan hotel, karena kami langsung menemukan Hotel Lingga yang masih menyediakan kamar. Sekedar untuk berbagi saja, beberapa tahun yang lalu saya dan keluarga berniat untuk merayakan tahun baru di Bandung namun sesampainya di Bandung kami tidak menemukan satu hotel pun untuk menginap dan akhirnya kami menentukan untuk kembali ke Bogor. Berbekal pengalaman inilah kami bersyukur telah mendapatkan Hotel Lingga di Buah Batu.

Aktifitas kami baru dimulai lagi pada pukul 17.00, orang tua dan kakak saya ingin berjalan-jalan di sekitar Braga dan sekalian mencari makan malam disekitar sana. Akhirnya saya temani mereka berjalan-jalan di sekitar Braga. Karena masih dalam rangka libur lebaran, masih banyak toko-toko yang tidak buka dan sedikit membuat Braga terlihat datar dan agak gelap. Biasanya Braga dipenuhi dan diramaikan oleh lampu-lampu dari jajaran pertokoan disana. Malam ini kami tidak terlalu lama menikmati Braga karena memang banyak toko yang tutup. Setelah berjalan-jalan di Braga, akhirnya kami memutuskan untuk makan malam.

Keesokan harinya, kami akan mengunjungi Kawah Putih. Kami berangkat pukul 08.00 pagi dari Buah Batu dan perjalanan menuju Ciwidey kami tidak menemukan kemacetan sama sekali. Kondisi jalanan sudah jauh lebih baik dibanding pertama kali saya datang kesana. Sekitar pukul 10.30, saya dan keluarga tiba di kawasan Wisata Kawah Putih.

Sebenarnya ada sedikit kekecewaan dari Kawasan Wisata Kawah Putih ini, tarif per mobil untuk masuk ke Kawasan Kawah Putih adalah Rp 135.000. Jujur saja, tiket masuk ke Taman Safari yang lebih banyak memberikan fasilitas tidak sampai angka tersebut. Dan ketika kami masuk pun dan menuju lokasi Kawah Putih saja, jalanannya masih buruk. Tidak seluruh jalannya di aspal dan jalanannya sangat sempit untuk dua arah. Menurut saya harga tiket masuk ke Kawah Putih kurang masuk akal, dan masih dikenakan biaya per orang. Kecuali, seluruh fasilitas di kawasan Kawah Putih sangat bagus dan bersih mungkin masih bisa diterima. Kawasan untuk membeli souvenir dan tempat makan pun tidak terlihat bersih dan membuat saya dan keluarga enggan untuk makan disekitar tempat tersebut. Belum lagi tempat parkir di Kawah Putih yang belum di aspal sama sekali. Kondisi parkirannya masih bebatuan dan menurut saya agak berbahaya karena pejalan kaki harus berhati-hati disini.

Namun, kecantikan Kawah Putih sampai saat ini memang masih sangat indah. Saya kurang bisa menceritakan keindahan hari itu, bagi para pembaca lebih baik melihat gambar dibawah ini.




Saya lumayan lama menghabiskan waktu disini karena saya tidak henti-hentinya mengambil gambar. Saya sangat menikmati pemandangan hari itu. Semoga para pengurus kawasan Wisata Kawah Putih lebih bisa menjaga dan memajukan kawasan wisata ini.

Setelah mengunjungi Kawah Putih, saya dan keluarga memutuskan untuk pulang dan mencari makan siang. Kami turun cukup jauh sampai akhirnya kami menemukan Rumah Makan Unti. Di Rumah Makan ini, kami bisa memetik buah strawberry dan blackberry sendiri. Dan Rumah Makan ini menyediakan segala sayuran yang dihasilkan sendiri. Saya melihat pohon selada, seledri, tomat, dll di kebun Rumah Makan ini. Karena saya penasaran dengan bentuk blackberry dan rasa asli blackberry, maka saya kegirangan untuk memetik blackberry. Ternyata bentuk fisik blackberry itu kecil-kecil, gak seperti yang saya bayangkan. Kalo masih muda warnanya kemerahan kaya warna buah raspberry, kalo sudah terlalu matang warnanya hitam dan agak kering. Rasanya juga gak kalah asem sama strawberry.

Setelah selesai memetik blackberry dan makan siang, akhirnya saya dan keluarga pulang ke Bogor. Liburan kali ini menurut saya menyenangkan karena benar-benar santai dan tidak terlalu melelahkan.

Tuesday, June 07, 2011

Welcome, Baby Boy...










He is Syahida Aufa Niamillah Ligar, my cute little nephew. Born at Bogor, 5th of June 2011.
Welcome to the universe dear Aufa! Don't you agree that he's too adorable? ♥

Friday, April 01, 2011

Mommy

Sesuai janji saya, saya akan menceritakan tentang Mama saya.

Em.... Saya bingung harus mulai darimana. Karena terlalu banyak momen-momen yang ingin saya ceritakan kepada semuanya tentang Mama.




Perkenalkan Mamaku: Ir. Meitrisia Suman, M.Pd


Mama adalah perempuan aktif dan penuh talenta. Mamaku fasih berbahasa Inggris, walau dahulu kuliahnya di Perikanan IPB. Mama tumbuh di Jakarta dan di Depok, yang membuat logat berbicaranya rada-rada kebetawian. Kalau lagi ngomong “gue-elo” kayanya medok banget sampe orang percaya deh kalo Mamaku kenal banget sama Betawi. Padahal aslinya, mamaku ada darah Padang dan Jawa.

Mamaku itu senang belajar hal baru. Beliau suka mengedit foto. Percaya gak percaya, mamaku gape banget pake Adobe Photoshop. Beliau belajar sendiri loh! Kadang-kadang sih mama nanya ke aku, tapi overall keahliannya menggunakan Adobe Photoshop adalah usahanya sendiri.

Mamaku seneeeeeeeeeeeeeeeeeeeng banget internetan. Mamaku pokoknya seneng browsing.

Oh ya, waktu aku dan kakakku lagi gandrung-gandrungnya sama musik-musik dan film-film dari Jepang. Mamaku ikut ketularan. Bahkan Mamaku lebih hapal lirik-lirik lagunya L’Arc~en~ciel dibanding aku dan kakakku. Yang lebih hebatnya, mamaku belajar Bahasa Jepang! Sekarang mamaku sedikit banyak ngerti Bahasa Jepang. Dan mamaku itu gak pake les, belajar dari buku-buku dan nonton anime. Hebat bukan?

Mamaku juga suka fotografi. Mamaku sering banget nanya-nanya tentang ilmu-ilmu fotografi. Sekarang kalau mamaku jalan-jalan, mama tidak pernah lupa sama kameranya. Aku aja kalah sama mama, Mama selalu bawa kameranya kalau lagi jalan-jalan. Bahkan jauh lebih narsis, hehe.




Mamaku lagi belajar motret


Oh ya, mamaku itu rajin banget mengerjakan TTS. Tapi bukan TTS yang gambar depannya cewe-cewe pake baju renang. Tapi crosswords online berbahasa Inggris. Mamaku rajin tiap hari nyari crosswords, terus beliau isi sampe jawabannya dapet semua. Kata mama, otaknya perlu diasah, kalau gak main crosswords rasanya otaknya lemah.

Sekarang, mamaku lagi rajin ngerajut. Entah udah ada berapa karyanya. Mama mulai ngerajut lagi karena Mama sebentar lagi punya cucu! Mama membuatkan selimut, tutup kepala, sarung tangan, kaus kaki buat calon cucu mama. Dan kayanya mama gak berhenti-berhenti ngerajut beberapa bulan belakangan ini.

Lihat kan? Mamaku memang bertalenta!

Oh ya, Mama itu suka sekali bercerita. Kadang saat aku tidak bertanya pun, mama suka memulai percakapan sepert ini: “Eh Nis, mama punya cerita loh...”. Dan semua cerita Mama itu tidak ada yang tidak memiliki pesan. Past ada hikmah, ada pesan, ada nasihat dalam cerita-ceritanya Mama. Makanya, aku selalu seneng kalau mama lagi cerita.

Mama itu selalu membantu walau aku tidak pernah meminta. Misalnya, dulu sewaktu aku masih SMP. Kenaikan kelas biasanya kami dibelikan alat tulis baru, buku catatan baru, dll. Waktu itu, tanpa aku minta.. Tahunya mama sudah belikan aku alat tulis baru! Hampir semuanya berwarna ungu dan ada gambar pokemonnya! (Waktu itu aku sangat suka warna ungu dan pokemon :D). Mama memang tahu apa kesukaan anaknya.

Lalu, beberapa bulan lalu saat aku akan pergi ke Eropa untuk praktikum. Ternyata di Bogor, mama sudah menyiapkan kebutuhanku tanpa sepengetahuanku. Bahkan beliau sudah jauh memikirkan kebutuhan-kebutuhanku dibanding aku sendiri. Bener-bener deh, kalau tidak ada mama bisa-bisa banyak barang yang lupa aku bawa.

Kalau aku sedang bete dan merengek-rengek pengen jalan-jalan atau liburan. Mama hampir selalu menanggapi aku. Dasarnya, Mama emang suka jalan-jalan juga, jadi Mama jarang nolak kalau diajak jalan-jalan. Biasanya aku sama Mama suka panas-panasin Bapak biar Bapak mau diajak liburan. Hehe, aku dan mamaku memang tim yang baik!




Aku dan Mama saat Wisuda S2 Mama :D


Kadang aku merasa mamaku itu punya sixth sense. Kadang kalau aku sedang ada masalah, tapi diam saja, tidak cerita apapun ke Mama. Tau-tau Mama tuh ngajak ngobrol, nyuruh aku bergerak, biar aku gak bengong aja... Kadang tiba-tiba nyuruh makan, tiba-tiba nyuruh kemana, dan aku ngerasanya sih kayanya Mamaku ini lagi bantuin aku biar gak bete. Entahlah, bener gak sih ma?

Mamaku itu bener-bener tempat curhat, tempat cerita, tempat nangis... Aku ingat, kalau aku lagi ada masalah, Mama selalu diam dan memeluk aku, membiarkan aku nangis sampai selesai. Mama tidak akan berbicara apapun sampai tangisanku selesai. Setelah tangisanku selesai, Mama akan menggenggam tanganku dan mendukungku dengan pilihan kata-katanya yang... selalu tepat. Mama selalu tahu cara untuk menenangkanku dan membuatku senang... Makanya, aku tidak pernah bisa berbohong sama Mama. Karena kesedihan dalam bentuk apapun, pasti bisa hilang kalau Mama yang kasih semangat... Terima kasih ya Ma :)

Hebatnya, seberapa besar kesalahanku, walau awalnya Mama selalu marah, mendiamkan aku, tapi kalau aku minta maaf... Pasti selalu berakhir dengan pelukan Mama yang hangat... Pelukan Mama yang menandakan seberapa dalam cinta Mama buat aku, seberapa dalam kepercayaan Mama buat aku... Ah, mama itu gak usah berbicara juga, pelukannya udah bikin hati terenyuh, bikin pengen nangis... Saking begitu besarnya, begitu lapangnya hati Mama buat semua kesalahan-kesalahan aku... Harus bersyukur seperti apa lagi aku punya Mama seperti beliau?

Bagi saya, sosok Mama itu sulit digambarkan. Karena banyak sekali perlakuan Mama ke aku itu tanpa usaha tapi begitu mengena di hati. Sumpah, pelukannya itu loh.. Pelukan Mama itu sulit dilawan... Sulit sekali... Terima kasih Mama buat semua pelukannya, semua dukungannya, semua rasa percayanya... Terima kasih Ma, terima kasiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih sekaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

Thursday, March 31, 2011

Bapak

Akibat sedang mencari motivasi untuk terus rajin mengerjakan skripsi, wajah kedua orang tua saya seperti bolak-balik menghantui saya. Akhirnya, rencana awal untuk kembali memulai mengerjakan skripsi tertunda, karena Ms. Word saya malah terisi dengan cerita-cerita tentang orang tua saya.

Pertama, saya mau menceritakan tentang Bapak saya terlebih dahulu.



Perkenalkan Bapakku: Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, M.Sc


Sedari awal, beliau sudah berkata: “Saya maunya dipanggil Bapak. Bukan Papah, Papa, Papi, Daddy atau yang lain. Bapak”. Tapi entah kenapa saya dan kakak saya selalu manggilnya: “Pah, pah...” Alhamdulillah Bapak saya tidak pernah mengeluh sih dipanggil begitu.

Bisa dibilang Ayah saya adalah total role model saya. Beliau adalah orang yang sangat cerdas. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di Surabaya, Jawa Timur. Saat memilih perguruan tinggi, beliau sangat ingin melanjutkan ke Institut Teknologi Bandung, namun entah mengapa Bapak saya justru masuk ke Institut Pertanian Bogor di jurusan Teknik Pertanian. Beliau ternyata lulus dengan masa kuliah 3,5 tahun saja!

Namun cerita inilah yang menjadi pelajaran bagi anak-anaknya saat ini. Pada masa kakak dan saya harus memilih perguruan tinggi dan tidak mendapatkan jurusan dan perguruan tinggi yang kita mau, Bapak selalu menceritakan ketidakberhasilannya untuk masuk ke ITB. “Kalau Bapak masuk ITB, belum tentu Bapak bisa menjadi seperti sekarang. Memang rasanya sekarang kamu gak terima gak masuk di universitas yang kamu mau, tapi nanti di masa depan kamu bakal tau betapa beruntungnya kamu kuliah di universitasmu sekarang”.

Bapak saya pernah bercerita, ketika saya dan kakak saya sedang bercerita mata kuliah yang sulit di masa kuliah kami, beliau berkata: “Dulu, Cuma ada satu mata kuliah yang bapak paling nggak ngerti! Ilmu Tanah! Bapak gak ngerti, dan Bapak dapet B!”, serentak kakak dan saya bertanya: “Loh, B? Gak sulit lah Pa...” dan dijawab dengan entengnya: “Loh, dulu saat itu nilai mutu saya A semua...!” Oh... Ya... Cukup bikin kita sedikit gendek karena prestasinya pada masa kuliahnya dahulu, membuat saya dan kakak saya ingin berteriak saat itu juga: “Kenapa saya gak bisa kaya Bapak sayaaaaaaaaa??!!

Selanjutnya, Bapak saya melanjutkan pendidikannya di Canada. Beliau mendapatkan beasiswa S2 dan S3nya sekaligus di University of New Brunswick, Canada dan beliau pindah haluan ke jurusan Computer Science. Akibat beasiswa beliaulah, saya jadi bisa numpang lahir di Fredericton, Canada. Beliau bercerita, hidupnya saat di Canada tidaklah mudah. Beliau pernah menjadi janitor demi melanjutkan kehidupannya disana.

Beliau juga pernah secara tiba-tiba menelpon saya ketika saya sedang berada di Jatinangor... Beliau bercerita bagaimana susahnya saat itu mengerjakan thesis, karena saat itu Bapak saya belum terlalu fasih dalam berbahasa Inggris. Katanya, setelah beliau memberikan draft thesis ke Dosen Pembimbimngnya, draft tersebut tidak dicoret bahkan segaris pun oleh Dosen Pembimbingnya. Katanya, tulisan Bapak saya tidak bisa dimengerti sama sekali. Dosen Pembimbingnya hanya berkata: “Think about it again..”. Wah, saya baru dicoret-coret banyak sekali sama Dosen Pembimbing sudah bingung bukan main, apalagi Bapak saya ya? Harus memakai Bahasa Inggris dan tidak ada coretan sama sekali! Itu jauh lebih membingungkan.

Dari cerita diatas, terlihat Bapak saya adalah orang yang sangat peduli dengan akademis. Ya, dalam kehidupan saya dan kakak saya, kami selalu didukung penuh dalam hal akademis. Apapun yang berhubungan dengan pendidikan kami, tidak pernah sungkan-sungkan ia berikan. Namun, satu hal yang saya sangat bersyukur memiliki orang tua seperti Bapak saya, Bapak saya tidak pernah sama sekali mempermasalahkan IPK anak-anaknya. Keinginan Bapak saya yang paling utama adalah kami lulus menjadi sarjana. IPK bagus itu hanya nilai tambah. Makanya, mau sejelek apapun IPK anak-anaknya, Bapak (dan Ibu saya) tidak pernah marah, tidak pernah mengeluh, dan tidak pernah meminta kita untuk harus memiliki IPK tinggi. Saya rasa Bapak dan Ibu saya pun sudah bisa mengukur kemampuan anaknya.




Bapak lagi lompot di Bromo. Terlihat sangat ceria :D


Bapak saya adalah orang yang tidak pernah lelah memberikan motivasi. Ada satu kalimat yang selalu saya ingat sampai saat ini dan menjadi kunci motivasi saya: “Ubah kebingunganmu menjadi energi positif Nis. Kamu pasti bisa”. Saat Bapak saya mengucapkan kalimat tersebut, jujur, saya merinding. Saya bahkan hampir menangis. Betapa bersyukur saya memiliki Bapak seperti beliau. Betapa bersyukurnya saya memiliki Bapak yang tidak pernah sungkan-sungkan berbicara dengan anaknya, mau berkomunikasi dengan baik dengan anak-anaknya, mau berdiskusi dengan anak-anaknya... Alhamdulillah.

Tidak sampai disitu, Bapak saya juga sangat gape akan hal agama. Ketika kami memiliki masalah-masalah Bapak adalah tempat curhat yang baik. Sebagai pembuka, beliau pasti akan memberikan jalan keluar secara logis, namun setelah itu beliau akan menambahkan pandangan-pandangan dari agama yang membuat kami semakin yakin bahwa beliau sangat berusaha untuk memberikan jalan yang terbaik bagi kami.

Saya sangat bersyukur tumbuh dalam keluarga yang religius, Bapak dan Ibu saya benar-benar memberikan pedoman dalam kehidupan kami. Bapak saya sangat mengutamakan mengaji. Beliau tidak pernah lupa mengingatkan kami untuk mengaji walau dalam kesibukan. Karena, beliau pun dalam kesibukannya yang padat, tidak pernah lupa mengaji.

Walau kami tumbuh dalam keluarga religius, Bapak sangat mencoba untuk mengerti kehidupan anak-anaknya. Apabila dalam bayangan orang-orang umum “keluarga religius” adalah seperti tidak boleh menonton bioskop, tidak boleh menonton konser, tidak boleh jalan-jalan, tidak boleh menikmati hal-hal duniawi, maka keluarga saya pun jauh dari itu. Hiburan-hiburan apapun boleh kami nikmati, selama jauh dari hal mudharat. Bapak juga senang berjalan-jalan, namun karena kesibukannya, kadang acara jalan-jalan suka tertunda. Disaat saya meminta ingin liburan dan ke pantai, Bapak bersedia menyetir entah selama berapa jam untuk berliburan. Sungguh, Bapak yang sangat baik hati bukan?

Bapak juga mencoba untuk akrab dengan teman-teman saya. Bapak tidak pernah menjadi orang yang kaku didepan teman-teman saya. Bapak selalu mengeluarkan canda-candaannya sehingga teman-teman saya tidak sungkan didepan Bapak saya. Bahkan Bapak sering menanyakan kabar teman-teman saya.



Bapak dan Aku :*


Oh ya, Bapak selalu bahagia kalau melihat saya ada di rumah. Setiap Bapak pulang bekerja dan tahu saya ada dirumah, saya akan membukakan pintu rumah sambil berteriak: “Bapaaaaaaaaaaaaak!” dan Bapak saya akan menjawab dengan senyuman lebar: “Annisaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, kamu kapan sampenya?”. Dengan dialog sependek itu pun, saya sudah tau, saya sudah sangat tau betapa Bapak mencintai saya, betapa Bapak merindukan anaknya yang sedang kuliah jauh dari orang tua, betapa Bapak ingin mendengar kabar dari saya... Ah, saya bahkan gak percaya saya nangis saat nulis ini.

Akhir kata, terima kasih Bapak. Terima kasih untuk semua dukungannya. Terima kasih atas kepercayaannya. Terima kasih, terima kasih, terima kasih, terima kasih..... Entah harus berapa terima kasih yang harus saya berikan buat Bapak... Cium hangat dari Annisa pa... :*

Nanti cerita tentang Ibu saya menyusul ya!

Monday, September 06, 2010

Perjalanan Lintas Pulau: Palembang














Only photos, no mood for story telling. Sorry.

Wednesday, September 01, 2010

Trust














A new lovey-dovey. My brother and his wife.

A part of you has grown in me
And so you see, it's you and me
Together forever and never apart,
Maybe in distance, but never in heart

Thursday, September 17, 2009

Adam Godam

Mari, saya perkenalkan adik sepupu saya yang doyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan banget kayang. Namanya Nurfalah Adam, cuman gara-gara dia badannya rada gede dan gak normal dibandingin ama anak2 seumurannya akhirnya dia dipanggil si Godam.

Eh eh bentar, perasaan gw ada fotonya deh... Nih:


Yah, liat kan mukanya pipi semua. Terus dari fotonya udah keciri banget ni anak rada2 miring. Masa lompat2in pager? Gila lo dam.

Sekarang sih dia udah kelas 1 SMA. Tapi itulah masalahnya! Mungkin si Godam ini lagi dalam masa-masa labilnya (Piss deh daaam..).

Jadilah pada suatu malam, gw ngajakin adik2 sepupu gw yang cerewet dan gak tau malu ini nonton. Tadinya mau nonton G-FORCE di Botani Square, tapi ternyata jadwalnya cuma ada yang jam sebelas malem. Dan gak mungkin aja kayanya gw bawa tu adik2 sepupu cerewet gw lebih dari jam 12 malem. Bisa-bisa pada kumat semua. Tapi akhirnya kita nonton Final Destination 4 jam 10 malem.

Waktu itu kita nyampe bioskop sekitar jam 9-an, jadi masih harus nunggu 1jaman lagi buat masuk ke studionya. Gw punya feeling gak enak deh kalo udah harus nunggu, karena pasti ada aja yang mau bikin onar. Dan itu benar, Adam lagi-lagi membuat onar.

Tiba-tiba dia bilang kalo dia ngefans banget ama Raditya Dika, dan sambil ngomong kaya gitu, dia tiba2 kayang di depan orang-orang!! Sumpah, sumpaaaaaaaaaaah! Gw gak mau punya adik sepupu kaya gini :p. Sayang banget kejadian waktu itu gak gw foto. Terus gw bilang, "Duh Dam, jangan bikin Mbak Nisa malu dooong!! (sambil nahan ketawa)" dan si Godam dengan enaknya jawab, "Daripada Raditya Dika mbak! Gila dia kayang di depan monasss!!!". GUBRAK.

Gw cuma bisa geleng-geleng aja liat ni anak kerjaannya cuman kayaaaaaaang aja dah. Tiap kali kita bikin dia pundung, anceman dia adalah "Adam mau kayang ah", lah siapa yang gak nyerah? Hahaha.

Terus akhirnya setelah cape ketawa2in si Godam, tiba-tiba di izin ke kamar mandi. "Mbak, mbak aku ke kamar mandi lagi ya...". Padahal dari tadi tu anak udah bolak-balik kamar mandi. Set dah ni anak kenapa, kok beser banget kayanya. Terus tau-tau waktu udah menunjukkan jam 10, dan itu artinya kita harus masuk ke studio. Tapi si Godam gak kunjung balik ke tempat kita nunggu. Akhirnya gw nyuruh satu lagi adik sepupu gw bernama Gayuh, untuk nyamperin Godam di kamar mandi. Terus tiba-tiba si Gayuh balik dengan wajah sedikit pucat, "Mbak, Adam gak ada di kamar mandi...!!". Lah?! Buset dah tu anak, gede-gede aja bisa ilang dia. Gimana kalo kecil? Terus tiba-tiba si Icha nyeletuk, "Mbak, kayanya si Adam ada di tempat game deh...". Ngah? Tempat Game? Ngapain tu anak ke tempat game? Emangnya doi maen game apah?

Akhirnya, Gw, Gayuh, dan Icha langsung nyamperin tempat game, dan bener aja doooong!! Si Godam lagi nganga ngeliatin orang maen game. ASTAGHFIRULLAH!!!! Akhirnya gw bilang, "Dam, kamu kalo mau maen mbok yo bilang. Jangan nganga gitu ngeliatin orang maen game, entar dikiranya kamu gak dikasih duit ama orang tua... ck ck ck". Dia cuma cengengesan aja pas gw bilang kaya gitu.

Akhirnya, masuklah kita ke studio. Sambil nunggu film mulai, si studio akhirnya masang satu lagu. Terus tiba-tiba, si Godam nyeletuk, "Wah mbak, ini lagunya keren loh mbak!". Ngah? Terus gw perhatiin ni lagu, familiar tapi entah kenapa gw lupa ni judulnya apa, tapi semacam Kangen Band gitu lah lagunya. Terus gw bilang, "LAH DAM! INI KAN K**GEN BAND!!! Kok keren?". Terus dengan sontak dia jawab penuh senyum: "Yah Mbak gimana sih? Ini kan yang Yolanda, Yolanda itu Mbak...". Oh oke, gw terima. Gw pikir dia emang lagi bercanda dan punya pemikiran yang sama kalo Ka**** Band itu gak banget.

2 menit kemudian si Godam ngeluarin mp3 playernya dan tiba2 ngomong ke gw, "Mbak, di mp3 player ku ada lagu Kangen Band loh...!". Gw cuma melotot, berpikir apakah ini masih candaan, terus ngomong, "Apaan dam judulny?" dan dia jawab lagi dengan muka penuh senyum: "Terbang balababal (gw lupa)". Terus gw nengok ke Icha, "Cha, si Godam tu beneran suka Kangen Band?" terus si Icha jawab sambil malu-malu, "Iya Mbak! Katanya Adam tu suka banget ama Kangen Band!!!". Terus pas gw liat Adam, tau tau dia lagi nyanyiin lagunya Kangen Band dengan lantang dan penuh percaya diriii!! YA ALLAAAAAAAAAAAAAAH!!! Mana di dalem studio rame pula! Duh duh...

Maaf Dam, tapi kalo kamu dateng ke rumahku dan maen bareng lagi ama aku, jangan bawa mp3 playermu dan jangan nyanyikan lagu itu dengan lantang dan penuh percaya diri.

Terima Kasih

Saturday, May 17, 2008

When Every Single Things In This Life Back To Him.

Ya.. tanggal 17 mei ini gw baru bisa posting karena ada beberapa peristiwa yang bikin gw sibuk.

Pertama, rencananya gw ga akan pulang ke Bogor karena bakal ada beberapa kegiatan kampus yang seharusnya bisa gw ikuti. Kedua, ternyata OPA gw meninggal, tanggal 15 mei kemaren di siang hari. Gw ga ikut pemakamannya, tapi gw langsung pulang ke Bogor dari Jatinangor sore itu juga. Gw pulang dgn tau klo gw ga akan ketemu lagi ama OPA, tapi gw tetep pengen ada disana. Awalnya ama Bokap gw disaranin untuk ga pulang… Katanya bokap gw:

“Nis, OPA skrg uda ga ada. Klo km mau pulang ya bagus, tapi Nis.. klo km punya urusan ato tugas, lebih baik km ga usa pulang, yang penting km doain OPA. Lagian abis ini mau langsung dimakamin, km yang masih hidup pasti masih punya banyak urusan. Jadi ga usah terlalu dipikirkan km harus ada disini atau ga, klo km ga bisa pulang juga gpp…”.

Awalnya gw emang ragu untuk balik ke Bogor, buat apa… klo ga ketemu OPA lagi… Tapi, setelah berpikir sebentar dan ada dorongan dari anak2 untuk pulang aja, akhirnya gw pulang… Tanpa membawa tetek bengek. Hanya laptop, dan 1 buah baju. Bingung sebenernya. Klo gw nyampe Bogor, keadaannya kaya gmn? Apa OMA nangis? Apa Mama dan adek2nya nangis? Apa sodara2 nangis? Dan apakah gw nangis?

Gw sendiri bingung. Pas denger OPA uda ga ada, gw cuma diem aja. Ga ngomong apa2. Tapi didalem hati tu “NYESSS….” Kaya ada yang ilang, kaya ada yang ngeganjel di hati. Tapi gw ga nangis. Entarh mengapa. Di keluarga gw emang kaya gitu, klo ada yang meninggal mereka ga nangis. Mereka langsung mikirin gimana ni mandiinnya, kapan dimakaminnya. Semuanya gerak cepat. Tapi pas uda semuanya beres, mereka ngumpul2 dan releasing saat itu.

Sempet di hati gw, rasanya sediiiih bgt. Badan gw langsung lemes, pas perjalanan pulang ke Bogor di bis. Badan gw seakan ga bisa diajak kompromi. Ga pengen ada situasi kaya gini, di saat OPA menghembuskan napas terakhirnya gw ga ada disana. Gw ga pengen situasi kaya gini. Tapi apa mau dikata… Gw harus berpikir lebih positif.

Di bis gw tidur, tapi resah. Dikit-dikit kebangun. Ada aja yang terbesat di otak gw. Entah itu muka OPA, entah itu situasi di Bogor, entah itu pikiran gimana OMA setelah ini? Gimana pas OPA meninggal? Apa OPA baik2 aja? Terlalu banyak yang terbesat di otak gw.

Ternyata, situasi di Bogor itu rumit. Kesana kemari, panggil sana panggil sini, karena banyak sodara dan tetangga. Kalo mau diturutin, ni badan udah capek bgt dan langsung pengen ngegeletak di tempat tidur. Hehhh… Tapi gw ga bisa egois, pasti ada yang lebih capek dari gw.

Sebenernya banyak bgt yang ada di otak gw. Tapi gw ga bisa dengan mudah ngegambarin semuanya disini. Semua juga tahu gimana rasanya kehilangan.

“Semua akan berpulang kepada-Nya”. Mudah-mudahan OPA selamat di akhirat sana. Amin.

Sunday, December 30, 2007

Gigs & Reunion

Hari ini adalah hari perdana manggungnya Shinoute, band kakak gw. Sambutan pendengar lagu Jepang di Hotel Salak pun, bener2 ga terpikir ama gw dan band kakak gw. Ya maklumlah, walaupun salah satu lagunya udah ada yang masuk radio, tapi mereka manggung di acara Jepang itu baru sekali. Kakak gw enjoy dan excited banget ternyata sambutan pendengar musik Jepang di Hotel Salak seseru itu, setiap kali 1 lagu selesai, penonton selalu berteriak, "Lagi! Lagi!". Gw juga bangga jadinya ama Kakak gw.

Kakak gw baru pertama kali audisi di acara Jepang, dan langsung dijadiin Band Featuring yang dapet waktu untuk manggung adalah 40 menit. Shinoute membawakan 6 lagu. Yaitu, Link - L`Arc~en~Ciel, Sailing Day - Bump of Chicken, Daybreak's Bell - L`Arc~en~Ciel, Konayuki - Remioromen, Spirit Dreams Inside - L`Arc~en~Ciel, dan Killing Me - L`Arc~en~Ciel. Sound di Hotel Salak tidak ada masalah, dan penampilan Shinoute tidak terganggu sama sekali.

Nah, masa iya sih gw sebagai ade ga dateng? Gw dateng dan gw diminta untuk poto2in band kakak gw. Ternyata kamera gw baterenya udah tinggal dikit, dan di Salak tu gelaaaaaap bgt.. Lightingnya pelit banget, jadi harus pake flash. Makanya baterenya cepet abis. Gw di Salak ditemenin ama Dede + Angga (Sahabat Tercinta Gw).

Setelah selesai Shinoute manggung, gw akhirnya bermain2 ga jelas di Hotel Salak bersama Dede dan Angga. Karena gw udah kangeeeeeeeeeeeeeeeeen bgt sama sahabat gw yang odob2 ini, jadilah kita foto2 di sana. Inilah beberapa foto gw di hotel salak, yang ga tau malu, dan pake self timer pula uda gitu kameranya ditaro di meja satpam.
Hehehe.



Nah itu dia foto2 iseng saya, dede + angga. hehe. Gw kangeeeeeeen bgt ama mereka. Terus setelah foto2, gw ama temen2 gw itu pergi ke blossom -sebuah factory outlet yang baru saja buka di Bogor- dan ga terlalu lama dan ga beli apa. Kita pulang, karena ternyata Dede disuruh pulang. Padahaaaal gw masiii kangeeeeeeeeeeeeeen bgt, pas pisah ama Dede pun rasanya gimanaaaaaaa gituuu. Si Angga juga sediiih bgt kayanyaaa.. duuh... I am really missing u!!!

Tapi apa mau dikata, yasudah gw pulang dan online deeeehh!! hehehe.

Satu lagi, sebelum gw tutup postingan ini...

HAPPY NEW YEAR 2008!!!