Monday, October 10, 2011

Desa Sawarna, Menyegarkan Mata (part II)

Sambungan dari: Desa Sawarna, Menyegarkan Mata (part I)





Perjalanan menuju Pantai Legon Pari


Saya pikir perjalanan ke pantai tidak terlalu jauh. Ternyata kami melewati sawah dan kebon, jembatan gantung yang lain, kali, naik dan turun yang cukup melelahkan. Tapi lagi-lagi karena kita berjalan dalam alam, saya tetap menikmatinya. Rasa lelah dan kaki pegalnya kalah sama rasa senang karena berasa sedang dipeluk oleh alam. Seperti ini kira-kira pemandangan yang saya dapat selama perjalanan menuju ke pantai.

Sampai akhirnya kami melihat laut dari ketinggian. Sumpah, saya sudah tidak sabar. Dari ketinggian, saya bisa liat hamparan laut yang biru tak berbatas, tapi sedikit banyak tertutup oleh pohon-pohon kelapa yang tinggi. Akhirnya kami turun lumayan lama, sampai akhirnya kami tiba di Pantai pertama kami, Pantai Legon Pari.


Selamat Datang di Pantai Legon Pari


Pasirnya putih. Ombaknya besar. Airnya bersih. Saya dan teman-teman langsung nyebur ke air walau jam masih menunjukkan jam 11. Panas? Iya, tapi gak ada gunanya ngeluh panas kalau sudah ngeliat pantai asri begini. Tempatnya juga tidak terlalu ramai. Berasa pantai miliki sendiri. Saya teriak, tertawa, ngejek teman, sambil bermain di Pantai. Menyenangkan.

Apabila kita menyusuri ke arah kiri dari Pantai Legon Pari, kita akan menemukan Pantai Karang Taraje. Katanya karangnya berbentuk seperti tangga. Tapi kata mas Atlas, kesana termasuk berbahaya apalagi saat ombak sedang besar. Jadi akhirnya kami menyusuri ke arah kanan Pantai Legon Pari.



Awal Mula Perjalanan Menyusuri Pantai


Saat ini, pantai sedang surut... Jadi permukaan pantai masih banyak yang terlihat. Banyak bebatuan yang terbentuk karena hasil abrasi dan juga binatang-binatang laut jadi mudah kami temukan. Menurut saya, ini yang membuat pantai-pantai di Sawarna terlihat indah. Hasil abrasi karang-karangnya. Gak bakal jadi seindah itu kalo buka karena abrasi.



Karang-karang yang seperti membuat air terjun


Setelah jalan sekitar 30 menit, kami melewati satu spot yang banyak sekali karang-karang tingginya. Lagi-lagi ini adalah hasil abrasi. Saat kami sedang melihat karang-karang tinggi tersebut, ombak yang sangat besar menghantam karang-karang tersebut dan akhirnya air-airnya jatuh seperti air terjun. BAGUSNYA BUKAN MAIN. Saya langsung motret cepet-cepet kejadian itu. Jujur, ini pertama kalinya saya lihat pemandangan seperti ini di pantai. Bukan main.




Perjalanan Menuju Pantai Tanjung Layar


Kami jalan cukup jauh dan saya tahu sebenarnya teman-teman juga sudah termasuk lelah. Tapi lagi-lagi seperti yang saya bilang sebelumnya, rasa capenya kalah sama rasa penasaran buat liat pemandangan lain di depan sana. Jadi kami teruuuuuuus berjalan di bawah terik matahari. Sampai akhirnya kami tiba di Pantai Tanjung Layar.




Tanjung Layar


Nah, kalau kalian search “Sawarna” di Google, pasti yang paling sering muncul gambarnya itu Pantai Tanjung Layar. Karena ini adalah pantai kedua paling dekat dari desa Sawarna. Tempat ini khas karena ada dua karang tinggi yang kalau dilihat dari sudut tertentu akan tampak seperti layar kapal. Lagi-lagi, ini semua terjadi karena hasil abrasi. Permukaan dari karang layar itu pun terlihat seperti landasan kapal, lagi-lagi karena hasil abrasi. Bukan main.

Setelah dari Pantai Tanjung Layar, kami duduk-duduk di warung terdekat. Kami sempat berdiskusi tentang keindahan pantai-pantai Sawarna. Teman saya, Alex, setahun yang berlibur ke Bali menyatakan: “Sawarna jauh lebih indah dari Bali”. Terus teman saya yang namanya, Dewa bilang: “Bagusnya Sawarna tuh, semua pantai ngasih ciri khas sendiri...”. Yep, saya setuju sama kata-kata Dewa. Pemandangan yang saya liat di Pantai Sawarna tuh gak sama dengan pantai-pantai yang lain yang Cuma ngasih liat pasir putih, air jernih, dan ombak yang besar. Sawarna punya pemandangan yang jauh lebih bikin cengo.

Penyusuran kami selesai di Pantai Tanjung Layar pukul 15.00 WIB, setelah itu kami kembali ke home stay untuk istirahat dan makan dan setelah itu kembali ke Pantai Ciantir (pantai paling dekat dari desa Sawarna) untuk menyaksikan sunset.


Teman-teman saya yang asyik main di pantai


Pukul 16.30 wib kami sudah stand by di Pantai Ciantir. Sambil menunggu sunset datang, kami asyik bermain di pantai. Ombaknya sangat besar, anginnya juga sangat kencang. Baru nyelupin kaki ke air aja rasanya dingiiiiiin banget. Baru juga berapa menit nyampe sana, badan udah basah dari atas sampe bawah. Seru! Awalnya pas liat keadaan langit, agak pesimis bakal dapat sunset bulat yang asyik. Tapi ternyata, akhirnya kita bisa nikmatin sunset yang indah.... Sambil nyender di pasir pantai, ngeliatin matahari yang tenggelam, bareng temen-temen... Ciamik...


Sunset di Pantai Ciantir


Setelah selesai menyaksikan sunset, kami kembali ke homestay. Di homestay, saya ngobrol bareng dua bule yang kebetulan nginep disana juga. Oh ya saya lupa bilang kalau yang punya homestay ini orang Australia, dan ngomongnya sangat-sangat gak jelas karena dicampur-campur sama bahasa Indonesia juga. Nah dua bule yang nginep disini kebetulan orang Australia juga. Biasalah orang bule doyan ngajak ngobrol duluan. Saya lupa apa obrolan pertamanya, yang jelas dia bilang kalau dia jauh lebih suka Sawarna daripada Bali dan katanya ini udah kedua kalinya dia ke Sawarna dan katanya ini tempat yang paling cocok buat surfing. Dia belum pernah ke pulau lain di Indonesia selain pulau Jawa dan Bali. Tapi kalau saya pribadi mah, Sawarna dan Bali sama-sama indahlah... Hahaha. Akhirnya saya ngasih tau beberapa tempat lain di Indonesia yang bagus-bagus. Dan katanya dia mau coba kesana... Yah semoga pariwisata di Indonesia jadi lebih maju ya...

Keesokan harinya kita bakal pulang. Nah, kali ini kita bakal coba pulang lewat rute Cisolok-Pelabuhan Ratu-Sukabumi-Bogor (istirahat)-baru ke Jatinangor. Jalannya memang jauh lebih gak bersahabat dibanding rute sebelumnya. Kelok-kelok, naik turun macem lagi di puncak. Tapi, pas udah masuk daerah kabupaten Sukabumi, SUBHANALLAH, sepanjang perjalanan tuh samping kanan kita pemandangannya pantai. Buseeeeet, indah banget deh pokoknya. Kita berkali-kali berenti setiap kali liat pemandangan bagus, apalagi kita dari ketinggian. Makin mantep aja dah berasanya.



Pemandangan selama di Cisolok


Pemandangan pantai habis setelah ngelewatin Pelabuhan Ratu, dan dari Sukabumi penunjuk jalan ke arah Bogor sangat banyak jadi gak bakal kesasar.

Nah kira-kira seperti itulah cerita saya ke Sawarna. Mata saya benar-benar segar karena pemandangan yang diberikan Sawarna. Jadi bagi siapapun yang mau ke Sawarna, JANGAN DIBATALIN.

Tips bagi yang ingin ke Sawarna:

  1. Perjalanan ke Sawarna termasuk jauh dan sepi. Jadi lebih baik siapin cemilan dan minuman selama perjalanan.
  2. Setelah masuk Bayah, ATM sudah sangat sedikit. Jadi lebih baik dari pertama kali berangkat sudah menyiapkan uang tunai.
  3. Bagi yang membawa mobil pribadi, untuk menghilangkan rasa kurang aman karena meninggalkan mobil lumayan jauh dari tempat tinggal, lebih baik bawa alat-alat keamanan untuk mobil.
  4. Bawa senter dan sandal yang ampuh dalam segala rintangan. Senter buat ke Goa, sandal yang bagus biar kaki gak pegel selama menyusuri pantai.
  5. Kalau dari awal udah gak kuat buat menyusuri pantai, lebih baik bilang sama tour guidenya, karena bisa minta dipanggilin ojek dari tempat terdekat.
  6. Jangan ngeluh, nikmatin aja semua yang ada di Desa Sawarna. Dijamin seneng dan gak rugi.

2 comments:

  1. wah subhanallah ya bagus bangeeet pemandangannya kak :D
    ya ampun kapan ya saya bisa kesana? hehehe

    ReplyDelete

Thank you :)